GLODOK

- Posted in 153'86 by - Permalink

Nostalgia LED Pertama di Glodok (1986), Resistor 10 Rp, dan Gila Solder 6 Jam/Hari!

Anda adalah saksi hidup revolusi elektronik Indonesia era 1980-an—saat LED masih barang langka, Glodok adalah "surga komponen", dan gairah belajar elektronik sampai mengorbankan kesehatan. Mari kita bernostalgia!


1. LED Pertama di Tahun 1986: Barang Mewah yang Bikin Kagum

Kenangan LED Zaman Itu

  • Harga: 50 Rp per biji (padahal nasi rames waktu itu ~200 Rp).
  • Warna: Hanya merah (LED hijau/biru masih sangat mahal, LED putih belum ada).
  • Kecerahan: Super redup dibanding LED modern (mungkin 100–1.000 mcd).
  • Bentuk: Lensa bundar (5mm) dengan kaki panjang, packaging plastik kecil.

Perbandingan LED 1986 vs Sekarang

Spesifikasi LED 1986 LED 2020-an
Harga 50–100 Rp 100–500 Rp (termurah)
Warna Hanya merah, hijau langka RGB, UV, bahkan OLED fleksibel
Kecerahan 1–10 mA, redup 10.000+ mcd (super terang)
Aplikasi Indikator panel, mainan Layar TV, smartphone, lampu hemat energi

2. Jalan-Jalan di Glodok & Mangga Dua: Surga Elektronik 1980-an

Lorong Glodok yang Tak Terlupakan

  • Toko Legendaris:
    • "Laris Elektronik" (jual transistor, IC, kit rakitan).
    • "Sinar Jaya" (tempat belaki resistor & kapasitor murah).
    • "Pusat Komponen Radio" (jual potensiometer, trafo, speaker).
  • Atmosfer Belanja:
    • Penjual menawarkan barang sambil teriak "Transistor AC128 ada, Bang!"
    • Katalog komponen dalam lembaran kertas buram.
    • Bau solder dan timah menyengat di udara.

Harga Komponen di Era Itu

  • Resistor: 10–25 Rp (1/4 watt, carbon film).
  • Transistor 2SB337: 100–200 Rp.
  • Kapasitor elektrolit 10µF: 50 Rp.
  • Baterai 9V (Eveready): 500 Rp.

3. Gila Solder 6 Jam/Hari: Pengorbanan Kesehatan demi Elektronik

Anda termasuk "korban kecanduan elektronik" yang umum di era itu—sama seperti teman-teman lain yang:
- Lupa makan & tidur karena asik merakit rangkaian.
- Keracunan timah solder (tanpa masker/exhaust fan).
- Mata lelah karena membaca skema di bawah lampu neon redup.

Dampak Kesehatan yang Mungkin Terjadi

  1. Keracunan Timah (Lead Poisoning):
    • Solder zaman dulu mengandung timah (Pb) tinggi (60/40 Sn-Pb).
    • Gejala: Pusing, mual, gangguan saraf (jangan heran kalau dulu sering pusing!).
  2. Asap Solder (Flux Fumes):
    • Asap rosin flux menyebabkan iritasi paru-paru.
  3. Gangguan Tidur & Pola Makan:
    • Terlalu fokus sampai lupa waktu.

Solusi Zaman Now (Kalau Mau Iseng Lagi)

  • Pakai solder tanpa timah (lead-free).
  • Gunakan exhaust fan kecil untuk hisap asap.
  • Masker wajah (khusus solder).

4. Projek-Projek yang Mungkin Anda Buat Dulu

  1. Running LED (Flip-Flop):
    • Pakai IC 555 + transistor + LED merah.
  2. Alarm Sederhana:
    • Buzzer + LDR (Light Dependent Resistor).
  3. Radio Sederhana:
    • Transistor AC128 + kumparan ferit + dioda germanium.

5. Di Manah Komponen-Komponen Itu Sekarang?

Nasib Toko Elektronik Glodok Lama

  • Banyak yang sudah tutup atau beralih ke jual aksesoris HP & gadget.
  • Beberapa masih bertahan di lorong belakang, tapi komponen analog sudah jarang.

Substitusi Komponen Jadul

Komponen 1986 Pengganti Modern
LED merah 5mm LED high brightness (3mm/5mm)
Resistor carbon Resistor metal film
Transistor AC128 BC547/BC557 (silikon)
Solder timah Solder lead-free (Sn-Ag-Cu)

6. Pesan untuk Generasi Elektronik 1980-an

Anda adalah pelopor maker movement Indonesia—sebelum ada Arduino, Raspberry Pi, atau toko online, Anda belajar elektronik dengan:
- Buku Vademikum Elektronika.
- Protoboard Tulus Kit.
- Modal nekat + solder timah.

Sekarang, ilmu Anda masih relevan—teori transistor, hukum Ohm, dan logika rangkaian tetap dipakai di robotik & IoT modern.

Mau Nyolder Lagi?
- Coba ESP8266 (IoT) atau Raspberry Pi Pico—rasanya seperti transistor 2SB337 versi 2020-an!


Selamat bernostalgia!
Kalau ada foto koleksi komponen jadul atau proyek lawas, share dong! 😊🔌

"Dulu 50 Rp beli LED, sekarang 50 ribu beli modul WiFi… Tapi semangatnya sama: tetep gila elektronik!"