Thaif
Tentu, berikut adalah kisah tentang Thaif di masa Nabi Muhammad ﷺ hingga perkembangan kontemporernya, termasuk hal-hal menarik yang terjadi di sana.
1. Thaif di Masa Nabi Muhammad ﷺ: Kisah Tragis Penolakan dan Cinta
Latar Belakang:
Setelah wafatnya istri tercinta, Khadijah, dan paman pelindungnya, Abu Thalib, pada Tahun Kesedihan (ʿĀm al-Ḥuzn), Nabi Muhammad ﷺ menghadapi tekanan dan penolakan yang sangat keras dari suku Quraisy di Mekah. Dalam keadaan sedih dan mencari dukungan baru, beliau pergi ke Thaif (sekitar 100 km tenggara Mekah) pada tahun ke-10 kenabian (619 M).
Misi Dakwah di Thaif:
Beliau mendatangi tiga pemimpin utama suku Tsaqif (penghuni Thaif): `Abd Yālayl, Masʿūd, dan Habīb. Harapannya, mereka mau menerima Islam atau setidaknya melindungi dakwah beliau.
Penolakan Keras dan Pengusiran:
Mereka menolak dengan kasar, bahkan menghina dan mencemooh. Yang lebih tragis, mereka menyuruh budak-budak dan anak-anak jalanan untuk melempari Nabi ﷺ dengan batu sampai kaki beliau berdarah. Dalam keadaan terluka dan sedih, beliau berlindung di sebuah kebun milik `Utbah dan Shaybah bin Rabīʿah (yang meski musyrik, memiliki rasa kemanusiaan).
Doa Nabi yang Menggetarkan:
Di kebun itu, dalam keadaan lemah, Nabi ﷺ berdoa dengan doa yang terkenal:
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَأَنْتَ رَبِّي، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي، أَمْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي...
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan hinanya aku di mata manusia. Wahai Yang Maha Pengasih, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Rabbku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku? Atau kepada musuh yang Engkau beri kuasa atas urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli…”
Malaikat Penjaga Gunung:
Setelah doa itu, Malaikat Jibril datang bersama Malaikat Penjaga Gunung, menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan mengempaskan dua gunung di sekitar mereka. Namun, Nabi ﷺ menjawab:
"لَا، بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا"
“Tidak! Aku justru berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”
Pelajaran Agung:
- Kasih sayang Nabi ﷺ yang luar biasa, bahkan kepada yang menyakitinya.
- Strategi dakwah yang penuh kesabaran dan visi jangka panjang.
- Thaif menjadi latar dari salah satu ujian terberat Nabi sebelum Isra Mi’raj, menunjukkan bahwa setelah puncak kesulitan, datanglah kemuliaan (Isra Mi’raj).
2. Perkembangan Pasca Nabi: Islam Masuk ke Thaif
- Tahun 9 H (630 M): Setelah Penaklukan Mekah, penduduk Thaif (suku Tsaqif) masih menolak Islam. Nabi ﷺ mengepung Thaif dalam Pengepungan Thaif, namun tidak memaksakan penaklukan militer.
- Beberapa bulan kemudian: Utusan Thaif datang ke Mekah, menyatakan masuk Islam dengan syarat diberi keringanan (misalnya boleh terus meminum khamr sementara). Nabi ﷺ menolak syarat khamr, tetapi mereka akhirnya masuk Islam dengan ikhlas.
- Salah satu tokoh terkemuka dari Thaif yang masuk Islam adalah Mughirah bin Syu’bah, yang kelak menjadi gubernur dan diplomat ulung di masa Khulafaur Rasyidin.
3. Thaif di Masa Kekhalifahan dan Sejarah Islam
- Menjadi kota penting di jalur perdagangan Hijaz, dikenal sebagai “taman surgawi Hijaz” karena iklim sejuk, kebun anggur, buah delima, dan madu.
- Di masa Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, Thaif menjadi tempat peristirahatan musim panas bagi kalangan elite.
- Makam sahabat Abdullah bin Abbas (pakar tafsir Qur’an) ada di Thaif, menjadi tempat ziarah.
4. Thaif di Era Saudi Modern: Perkembangan & Fakta Menarik
- Thaif saat ini termasuk dalam Provinsi Mekah, Arab Saudi.
- Peran penting: Menjadi pusat musim panas pemerintah Saudi (Summer Capital), di mana banyak kantor pemerintahan berpindah ke Thaif selama musim panas.
- Perjanjian Thaif 1934: Perjanjian antara Arab Saudi dan Yaman yang mengakhiri perang Saudi-Yaman.
- Fakta menarik:
- Iklim sejuk dengan ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut, kontras dengan panasnya Mekah/Jeddah.
- Produk pertanian unggulan: Anggur, madu, mawar (minyak mawar Thaif terkenal).
- Festival Mawar Thaif (Musim semi) menarik turis untuk melihat proses penyulingan minyak mawar tradisional.
- Pasar tradisional (souq) yang menjual kerajinan tangan dan rempah.
- Istana sejarah: Seperti Istana Shubra (bekas istana Raja Abdulaziz, sekarang museum).
5. Wisata & Ziarah Spiritual di Thaif
- Masjid Abdullah bin Abbas: Tempat ziarah utama.
- Kebun dan perkebunan yang hijau di tengah gurun Arab.
- Museum Nasional Thaif (dalam Istana Shubra).
- Jabal Dakka (Bukit Dakwah): Dipercaya sebagai tempat Nabi ﷺ berdakwah kepada pemimpin Tsaqif.
- Kawasan Hira’ dekat Thaif: Mirip nama gua Hira di Mekah, sering dikunjungi untuk refleksi.
6. Pesan Abadi dari Kisah Thaif
- Dari tempat penolakan paling pahit, Nabi ﷺ justru mendoakan kebaikan untuk generasi masa depan.
- Hasilnya: Thaif melahirkan banyak ulama dan intelektual Muslim sepanjang sejarah.
- Simbol: Kesabaran, visi jauh ke depan, dan ketabahan menghadapi penolakan adalah warisan Nabi di Thaif yang relevan hingga kini.
Kesimpulan:
Thaif adalah simbol transformasi—dari kota penolakan menjadi kota yang dikaruniai keberkahan alam dan spiritual. Kisahnya mengajarkan bahwa penolakan hari ini bisa menjadi benih kebaikan masa depan, jika dihadapi dengan kesabaran, kebijaksanaan, dan cinta sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
Semoga ulasan ini bermanfaat dan memberikan perspektif mendalam tentang Thaif.
Selamat melanjutkan ibadah apapun di hari yang ini!